Maafkan aku.
Bukannya aku tak memihak denganmu.
Tapi ini untuk yang terbaik untukmu dan untukku.
Maafkan aku, jika nantinya aku akan pergi dari kehidupanmu..
Dicky... semoga kau mendapatkan seorang wanita yang lebih baik dari pada diriku
dan semoga wanita itu tidak akan mengecewakanmu, tak sepertiku.
Aku mencintaimu.. sangaat mencintaimu.
Tiba-tiba saja tubuh Dicky menegang. Lelaki itu menutup novel, yang baru ia beli tadi ditoko buku dekat sekolahannya dulu.
Novel yang berjudul Once Again? itu sangat membuat hatinya sesak.
Perlahan ia membuka profil penulis novel itu. Ia menatap tulisan itu tak percaya. Penulis: Clarissa Nisa. Cinta masalalunya.
Dengan penasaran, ia kembali membuka novel itu.
Aku sangat menyesal telah menolak cinta Dicky sewaktu itu. Aku terlalu malu untuk mengakui perasaanku yang sebenarnya, jika aku mencintainya.
Dicky tersenyum miris dan mulai membaca selanjutnya lagi...
Dadaku serasa sesak saat mengetahui jika Dicky berpacaran dengan Ellsy. Arghh.. Tuhan, apa salahku? Ellsy adalah teman sekelasku dan dia pun masih ada darah dengan Dicky. Yah, saudara jauh. Sungguh.. aku ingin menangis sambil memukul Dicky sekeras mungkin. Dada ini sudah cukup perih saat kau mulai menjauhiku.
Mata itu masih terfokus dengan bacaan itu. Dicky masih tak percaya, jika wanita yang ia suka dulu, telah menerbitkan novel tentangnya.
Heuh.. aku lelah dengan semua sandiwara ini.
Aku ingin sekali untuk menjauhi Dicky. Aku ingin segera pergi dari hadapannya saat ini juga. Argh.. kenapa harus saling menggenggam tangan? Dan kenapa kau hanya menatapku dengan tatapan angkuhmu, Dick? Apakah kau tak sadar dengan kecemburuanku? Hah?
Dicky tersenyum.
Ahh.. aku sangat menikmati liburan musim panas ini. Kuharap dia juga menikmati liburannya juga.
Akhir-akhir ini aku sempat mendengar, jika Ellsy putus dari Dicky ya? Serius? Ah..
Entah mengapa, aku tidak berani menatap wajah Dicky, terlebih lagi menatapnya. Jika aku menatap mata hazel itu, akan kupastikan air mata ku akan meleleh. Aku terlalu takut untuk menatapnya. Karena tatapannya adalah kelemahanku.
Aku berusaha sekeras mungkin untuk tak bertemu dengannya. Jika aku merindukan Dicky, aku akan mengendap-endap menuju kelasnya dan mengintipnya dari kejauhan. Aaah.. aku merindukamu Dicky Prasetyo. Sangat merindukanmu..
Sejujurnya, aku sedang ingin menjauhimu dan melupakanmu. Tetapi kenapa kau selalu menggangguku? Hah? Bayang-bayangan wajahmu selalu hadir dipikiranku. Aku membencimu. Aku membencimu karena kau selalu jahil padaku. Aku membencimu karena kau selalu membuatku tersenyum dan tertawa. Aku membencimu karena kau selalu menggangguku. Aku membencimu karena aku tak bisa membencimu!!
Dicky tertawa kecil. “Lo sama aja kayak dulu, masih aja kekanak-kanakan...”
Hari kelulusan itu pun tiba. Semalam itu, aku meruntuki diriku yang bodoh ini. Aku selalu ingin menjauhimu. Tetapi disaat aku benar-benar menjauh darimu, hatiku serasa tak rela....
Mataku buta. Hatiku beku. Lidahku keluh. Tubuhku lemas.
Mengapa aku seperti ini? Hey! Ini bukanlah aku. Aku adalah sosok gadis yang ceria, riang, dan selalu tersenyum. Kupaksakan sebuah senyuman ceria dibibir merah jambuku ini, tetapi apa.. senyuman itu terlihat aneh. Aku tidak bisa tersenyum.
Seharusnya aku harus tersenyum bahagia, mengingat ini adalah hari bahagiaku. Hari terakhirku melihat Dicky. Ini yang kuimpikan selama ini, agar keinginanku untuk melupakan Dicky dan move on ke lelaki lainnya lebih gampang. Ehm, harusnya sih.
Dicky menghela napasnya kesal. “Munafik..”
Beberapa tahun setelah kelulusan itu.. hari-hariku semakin aneh saja. Aku pindah ke Jakarta dan Dicky masih menetap di Bandung. Ibuku selalu bertanya-tanya tentang diriku yang masih jomblo ini. Astaga ibu..
Dicky.. Dicky.. Dicky..
Nama itu selalu ada disetiap lembar kertas yang kukerjakan. Tuhan.. apakah kau telah mengutukku? Mengutukku untuk tetap setia menunggu lelaki itu? Argh! Siapa saja.. tolonglah aku. Aku sedang diantara dilema dan karma. Eh? Itu hampir sama kan? Aish entahlah, kali ini otakku benar-benar membeku.
Dicky tersenyum. “Apakah kau jodohku?”
“Mungkin saja begitu. Haha,” jawab seorang gadis berambut panjang itu sambil memeluk Dicky dari belakang.
“Tetapi itu sudah terlanjut terjadi, nona cantik. Kau adalah jodohku yang sesungguhnya..” ujar Dicky tersenyum. “Aku mencintaimu Clarrisa,”
Gadis itu tersenyum lebar. “Aku pun begitu, tuan tampan. love you!”
Ibu! Aku kesal denganmu. Apakah ini masih jamannya Siti Nurbaya? Kenapa kau ingin menjodohkanku kepada anak sahabatmu itu? Haaahh? Aku tidak ingin dijodohkan T__T aku ingin mencari pendamping hidupku sendiri, yang pantas untuk diriku ini. Pendamping yang kupilih sendiri.
Ah tetapi, sepertinya ibu sangat mengerti diriku? Terima kasih, ibu. Kau segalanya untukku. Lelaki itu... aku mencintainya. sangat mencintainya, bahkan dari dulu sejak aku masih bersama dengannya.
Dicky menutup novel itu dan meletakkannya ke laci. “Itu adalah fiksi teranehmu, sayang. Hahaha..”
“Ya! Itu bukan fiksi! Itu adalah kisah nyataku. Yah, walaupun ada pemeran yang aku karang namanya, tetapi alur itu benar-benar terjadi padaku!!” ujar Clarrisa tak terima dan mempoutkan bibirnya.
“Lalu itu apa buktinya? Di novel itu, kau menulis jika itu hanyalah karanganmu?” tanya Dicky balik.
Clarrisa hanya manyun dan mengabaikan ucapan suaminya itu.
“Dicky jelek. Dicky pesek. Dicky jeleeeekk!! Gue benci lo! Benci! Benci! Benciiii!” ujar Clarrisa setengah berteriak.
Dicky hanya tertawa melihat tingkah istrinya itu.
Apakah kita harus mengalah?
Apakah kita harus selalu diam dan memendamnya?
Kurasa tidak.
Sadarlah, kawan.
Jika dia jodohmu, dia akan mencarimu dan akan datang kembali kekehidupanmu.
Percayalah, jika Tuhan itu adil.
Tuhan akan selalu mengerti perasaan seluruh umatnya.
END
Jangan menunggu terinspirasi baru menulis.
Tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar