Hujan membasahi wajah dan tubuh Dinda. Rintik – rintiknya lolos
begitu saja melewati cekungan pipinya .Senyumnya membuat lesung pipinya
terlihat begitu jelas . Ada euforia tersendiri saat hujan membasahi
tubuhnya , membasahi baju seragam yang masih di pakainya sejak pulang
jam tambahan di sekolah .
Dinda masih memejamkan matanya sambil tersenyum , merasakan air hujan menerpa wajahnya . Tapi riak wajahnya berubah menyadari tak ada lagi terpaan air hujan di wajahnya . yang ada malah warna pelangi dari payung saat ia mendongakan kepalanya keatas. Kini ia memandang si empunya payung pelangi itu .
“ Renno.. “ batinnya
Ia memandang si empunya payung yang sampai saat ini masih memayunginya itu dengan kesal . Dan yang ditatap kini hanya tersenyum , senyum polos tanpa dosa. Dia bahkan tidak sadar telah merusak kesenangan Dinda. Dengan malas Dinda menjauh tiga langkah menjauhi Renno . Dan kini dia kembali menengadah ke langit dan perlahan menutup matanya , merasakan dinginnya air hujan menerpa kulit wajahnya . Renno ternyata masih giat memayungi Dinda. Masih dengan tatapan kesal yang sama Dinda kembali menatapnya. Dengan tangkas Dinda merebut payung yang Renno bawa lalu membuangnya begitu saja ke tanah lapang. Membiarkan payung itu menggelinding begitu saja.
“ Kau..! “ geram Renno
“ Kenapa ? Kalau tidak suka menjauh saja ,! “ teriak Dinda beradu dengan derasnya rintik ar hujan.
Si empunya payung tetap berdiri di tempat semula, masih dengan muka tertekuk dan bibir yang dimanyunkan karna kesal. Dinda hanya acuh dan terus menengadah . Sekarang, hujan mulai reda . Dinda yang dari tadi menengadahkan kepalanya kini mulai menunduk . kemudian berbalik memandangi Renno di sampingnya . Muka yang tadi tertekuk karna kesal menjadi pucat karna dingin.
Dinda kembali acuh dan meninggalkanya . Renno memandang sayu ke arah Dinda. Pertahanan Renno mulai lemah lalu menjatuhkan diri ke tanah basah itu .
Dinda yang mendengar suara riak hujan yang Renno timbulkan , mulai membalikkan badan dan berlari menuju Renno yang kini tergeletak lapangan . Menghampiri dan berjongkok memeriksa tubuh Renno . Dia memeriksa deru nafasnya , tapi tak ada nafas yang berhembus melalui lubang hidungnya. Dia kembali memeriksa denyut Renno , tapi hanya tangan Renno yang dingin yang dia rasakan . Dia menggoncangkan tubuh Renno berharap ini hanya kejahilan Renno seperti biasa . Berharap bahwa ini hanya mimpi buruk yang pernah dia dapatkan . Dinda … tak bisa lagi menahan air mata di pelupuk matanya . Dan
“ RENNO……”
Sekian!
Dinda masih memejamkan matanya sambil tersenyum , merasakan air hujan menerpa wajahnya . Tapi riak wajahnya berubah menyadari tak ada lagi terpaan air hujan di wajahnya . yang ada malah warna pelangi dari payung saat ia mendongakan kepalanya keatas. Kini ia memandang si empunya payung pelangi itu .
“ Renno.. “ batinnya
Ia memandang si empunya payung yang sampai saat ini masih memayunginya itu dengan kesal . Dan yang ditatap kini hanya tersenyum , senyum polos tanpa dosa. Dia bahkan tidak sadar telah merusak kesenangan Dinda. Dengan malas Dinda menjauh tiga langkah menjauhi Renno . Dan kini dia kembali menengadah ke langit dan perlahan menutup matanya , merasakan dinginnya air hujan menerpa kulit wajahnya . Renno ternyata masih giat memayungi Dinda. Masih dengan tatapan kesal yang sama Dinda kembali menatapnya. Dengan tangkas Dinda merebut payung yang Renno bawa lalu membuangnya begitu saja ke tanah lapang. Membiarkan payung itu menggelinding begitu saja.
“ Kau..! “ geram Renno
“ Kenapa ? Kalau tidak suka menjauh saja ,! “ teriak Dinda beradu dengan derasnya rintik ar hujan.
Si empunya payung tetap berdiri di tempat semula, masih dengan muka tertekuk dan bibir yang dimanyunkan karna kesal. Dinda hanya acuh dan terus menengadah . Sekarang, hujan mulai reda . Dinda yang dari tadi menengadahkan kepalanya kini mulai menunduk . kemudian berbalik memandangi Renno di sampingnya . Muka yang tadi tertekuk karna kesal menjadi pucat karna dingin.
Dinda kembali acuh dan meninggalkanya . Renno memandang sayu ke arah Dinda. Pertahanan Renno mulai lemah lalu menjatuhkan diri ke tanah basah itu .
Dinda yang mendengar suara riak hujan yang Renno timbulkan , mulai membalikkan badan dan berlari menuju Renno yang kini tergeletak lapangan . Menghampiri dan berjongkok memeriksa tubuh Renno . Dia memeriksa deru nafasnya , tapi tak ada nafas yang berhembus melalui lubang hidungnya. Dia kembali memeriksa denyut Renno , tapi hanya tangan Renno yang dingin yang dia rasakan . Dia menggoncangkan tubuh Renno berharap ini hanya kejahilan Renno seperti biasa . Berharap bahwa ini hanya mimpi buruk yang pernah dia dapatkan . Dinda … tak bisa lagi menahan air mata di pelupuk matanya . Dan
“ RENNO……”
Sekian!